Thursday, November 12, 2009

Tentang Maulana Tsanaullah Amratsari



Antara sarjana Islam yang masyhur dapat menghalang Qadyani adalah Syeikh Thana’u Allah al-Amratsori. Beliau adalah alim terkenal dari India dan mengemukakan hujah-hujah yang kuat setiap kali menghadapi ajaran itu. Oleh kerana Ghulam Ahmad berdegil, beliau mencabar dengan menentukan Ghulam Ahmad akan dibinasakan dan mati dalam kehinaan. Selepas beberapa hari sahaja, Ghulam Ahmad dibinasakan dengan mati yang hina. 
(petikan daripada Kuliah Tuan Guru Abdul Hadi Awang)

Setelah mengemukakan petikan Kuliah Tuan Guru ini, di sini inysaAllah cuba diterangkan apa sebenarnya yang berlaku agar para pembaca tidak terus dibohongi dan terhindar dari mengikuti fakta yang salah.

Ulasan ini saya hanya ambil dari buku PENERANGAN AHMADIYAH tanpa mengubah isi kandungan, hanya sahaja ejaan dan sedikit tanda baca atau tatabahasa telah dimodenkan agar para pembaca dapat memahaminya dengan mudah.





PERKARA MAULANA TSANAULLAH

Di sini perlu saya jelaskan perkara Maulwi Tsanaullah Amritsari yang telah dikemukakan oleh Syekh Muhammad Thahir dalam (Perisai Orang Beriman, hal. 64) dan oleh pengarang “Warta Jabatan Agama Johor” dalam majalahnya (bilangan 19) itu. Mereka itu berkata bahwa Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam telah bermubahalah dengan Maulwi Tsanaullah dan oleh karena mubahalah itulah Hadhrat Ahmad telah mati lebih dahulu daripada Tsanaullah tadi.

Saya jawab:
(1) Tatkala Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam diizinkan untuk bermubahalah dengan Ulama, maka beliau telah menyatakan hal itu dalam bukunya “Anjami Atahm” dan dengan menyebutkan nama-nama Ulama yang mendustakan beliau. Beliau mengajak mereka untuk bermubahalah. Nama Maulwi Tsanaullah pun telah disebutkan di antara para Ulama itu, pada akhirnya beliau menulis: “Bersaksilah wahai penduduk bumi dan wahai malaikat di langit! Bahwa laknat Allah bagi orang-orang yang telah mendapatkan seruan ini, tapi tidak mau bermubahalah dan tidak mau berhenti dari mendustakan dan mengkafirkan dan juga tidak mau menjauhi orang-orang yang memperolok-olokkan”.

(2) Kitab ini sudah sampai kepada Tsanaullah, akan tetapi beliau berdiam diri saja. Ketika para pengikutnya mendesak, barulah dia memberanikan diri untuk bermubahalah dengan beliau dan telah berjanji pula dengan orang-orang. Mendengar janjinya itu Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam menulis: “Kalau betul dia akan bermubahalah agar orang yang dusta di antara kita mati lebih dahulu daripada yang benar, maka sudah pasti Tsanaullah akan mati lebih dulu daripada saya … Hendaknya janganlah dia berpaling dari janjinya ini (Lihat I’jazu Ahmadi, hal. 14).

Tatkala Tsanaullah membaca tulisan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam ini, dia menulis: “Dengan dukacita saya menyatakan bahwa saya tidak berani dalam perkara-perkara yang semacam ini”. (Ilhamat Mirza, hal. 85).  

(3) Semua pengikutnya, bahkan orang-orang lain pun menyalahkan dia sehingga terpaksa dia menulis lagi: “Saya sanggup beramal dengan ayat (Faqul ta’alau nad’u abnaana wa abnaakum al-ayah) itu dan sekarang juga saya berani bermubahalah” (Surat kabar Ahli Hadis, 22 Juni 1906). Dan dia menulis begitu lagi dalam surat kabar (Ahli Hadis 29 Maret 1907).

Sebagai jawabannya, pengarang surat kabar “Badar” Qadiyan telah menyiarkan: “Saya memberi kabar suka kepada Maulwi Tsanaullah bahwa Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam telah mengabulkan seruannya (yang berhubungan dengan mabahalah) itu (Lihat surat kabar Badar 14 April tahun 1907).

Dalam surat kabar Ahli Hadis 19 April tahun 1907 Maulwi Tsanaullah menulis lagi: “Saya bukan hendak bermubahalah, saya hendak bersumpah saja atas kedustaan Mirza”. Heran bin ajaib! Maulwi Tsanaullah sendiri telah menyebutkan ayat mubahalah dan sudah menyatakan kesanggupannya untuk mengamalkan ayat mubahalah itu, akan tetapi sekarang dia telah memusingkan perkataannya lagi.

Hendaklah diketahui bahwa dalam mubahalah perlu ada dua puak dan perlu bersama-sama berdoa dengan sungguh-sungguh bahwa puak yang tidak benar akan dilaknat oleh Allah, akan tetapi kalau puak yang satu bersedia, sedang puak lain tidak mau, maka mubahalah itu tidak dapat dilaksanakan, sebagaimana mubahalah kaum Kristen Najran tidak jadi bermubahalah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(4) Dengan keterangan yang disebutkan tadi nyatalah sudah bahwa Tsanaullah berkali-kali menyeru Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam agar mau bermubahalah, akan tetapi tatkala Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam menerima seruannya, maka dia mencari jalan untuk lari.

Akhirnya pada 15 April 1907 M, beliau sendiri telah menulis satu surat yang mengandung doa kepada Maulwi Tsanaullah bahwa barang siapa di antara kita itu pendusta agar dibinasakan oleh Allah ta’ala. Dan pada surat itu beliau meminta kepada Tsanaullah agar surat itu disebarkan dalam surat kabarnya Ahli Hadis dan agar surat itu ditanda tangani sebagai bukti persetujuannya serta boleh menulis apa pun yang diperlukan di bawahnya. Surat beliau ini disebarkan oleh Tsanaullah dalam surat kabarnya, bernama: “Ahli Hadis” pada 26 April tahun 1907. Tahukah pembaca apa yang dia tulis dalam surat beliau itu? Dia sambung surat itu begini: “Tulisan Tuan (Ahmad Qadiyani) ini, saya tidak dapat menyetujuinya dan tidak ada orang yang berakal akan menyetujuinya”.

Ditulis lagi dalam majalahnya “Murqi’ Qadiyani” Bulan Agustus tahun 1907 begini: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar itu telah mati lebih dulu daripada Musailamah yang pendusta itu, sedang umur Musailamah sudah dipanjangkan”. Dia menulis lagi dalam surat kabar “Wathan” 26 April tahun 1907, begini: “Wahai Ahmad! Tolonglah perlihatkan kepada kami suatu mu’jizat agar kami dapat nasehat. Kalau saya telah mati apa yang akan saya lihat dan bagaimana saya akan mendapatkan petunjuk”.

Tiga keterangan Maulwi Tsanaullah ini menunjukkan bahwa dia tidak berani bermubahalah dengan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam. Dia tidak menyetujui ajakan mubahalah yang disebarkan oleh Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam, bahkan dia telah menulis bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar itu telah wafat lebih dulu daripada Musailamah yang pendusta, maka dari itu mubahalah yang dianjurkan oleh Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam itu tidak sampai terjadi, maka siapakah yang mati duluan dan siapakah yang mati belakangan itu tidak menjadi soal lagi.

Jadi, keterangan-keterangan yang telah dikemukakan oleh tuan Syekh Muhammad Thahir Jaluluddin dan pengarang “Warta Agama Johar” itu dengan sengaja diputar-balikkan. Akan tetapi dengan kupasan dan keterangan yang saya sebutkan ini akan nampak nyata siapakah yang benar dan siapakah yang pendusta, siapakah yang berani dan siapa pula yang pengecut.


Oleh sebab itu, kita jangan terlalu mempercayai sebelah pihak sahaja lalu membuat keputusan bahawa pihak yang dituduh itu memang salah. Itu sama sekali jauh dari keadilan. Mana-mana mahkamah pun tidak akan menjatuhkan hukuman tanpa mendengar dari kedua-dua belah pihak.  Kecuali “HAKIM” itu sudah hilang perjuangannya menegakkan keadilan, dia sudah takut kepada desakan para ulama dan tidak ada lagi rasa takut kepada Tuhan yang boleh mematikannya bila-bila masa sahaja.

Renungkanlah!!!
Dusta juga satu dosa yang besar jika terus menerus berulang-ulang menyatakan kedustaan.

No comments:

Post a Comment