Friday, November 13, 2009

Pernikahan Yang Menjadi FITNAH


Sebagaimana yang telah saya nyatakan dalam Respon terhadap Kuliah Tuan Guru Hadi Awang dalam tajuk BENARKAH QADIANI JAHAT, saya akan nyatakan di sini ulasan mengenai kuliah beliau itu yang petikannya seperti di bawah ini.

• Ghulam Ahmad meminang perempuan yang dicintainya di kalangan keluarganya. Dia mendakwa mendapat ilham daripada Allah supaya berkahwin dengan perempuan itu. Dia menjanjikan keluarga perempuan itu mendapat berkat dan kurnia yang besar. Sekiranya pinangannya ditolak, laknat dan azab Allah akan turun. Namun, pinangan itu tetap ditolak dan perempuan itu berkahwin dengan lelaki lain. Laknat yang dijanjikan tidak berlaku ke atas perempuan itu dan keluarganya. Sebaliknya Ghulam Ahmad berkata, Tuhan menikahkannya dengan perempuan itu di langit.

Untuk pengetahuan, ulasan ini juga saya hanya petik dari buku PENERANGAN AHMADIYAH, dengan harapan kesalahfahaman para pembaca dalam soal ini tidak akan berterusan, kemudian terserah kepada penilaian pembaca masing-masing dalam membuat keputusan.

____________________

Perkara Muhammadi Begum

Setiap Nabi dan Rasul Allah pasti diolok-olokkan oleh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:


Belum pernah seorang Nabi pun datang, melainkan orang-orang kafir memperolok-olokkannya (Ya Sin, 36:31).

Bermacam-macam tuduhan telah dilemparkan kepada mereka itu, telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan gila:


Orang-orang kafir mengatakan: Wahai orang yang diberi Adz-Dzikr, sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah seorang gila (Al-Hijr:7).

Nabi Nuh ‘alaihis salam juga dikatakan gila dan hina, disebutkan dalam Al-Quran:


Dan mereka berkata: Engkau gila dan hina (Al-Qamar:10)

Nabi Musa ‘alaihis salam dikatakan tukang sihir:


 Sesungguhnya dia (Musa) adalah pemimpin kamu yang mengajarkan sihir kepadamu (Tha Ha:72).

Nabi Shaleh ‘alaihis salam dikatakan pendusta dan sombong, disebutkan dalam Al-Quran:

Tidak, dia (Shaleh) adalah pembohong dan sombong (Al-Qamar:26).

Dan seperti “Musang” orang-orang kafir juga telah berkata bahwa orang-orang kaki lima dan bodoh-bodoh saja yang percaya kepada Nuh ‘alaihis salam, kata mereka:

Kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau wahai Nuh! Kecuali orang-orang yang hina dan tidak berakal (Hud:28).

Dengan demikian tuduhan-tuduhan para musuh Allah itu tidak boleh diendahkan, mereka tidak memandang kekhuatiran diri mereka, akan tetapi para Nabi dan Rasul yang suci dipandang kotor oleh mereka. Begitu jugalah keadaan musuh-musuh yang menuduh Hadhrat Imam Mahdi Ahmad ‘alaihis salam Al-Qadiyani.

Ahmad Dahlan menuduh Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam jatuh cinta kepada Muhammadi Begum (anak Ahmad Beg) seperti para Nabi terdahulu telah dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang kotor.

Cobalah perhatikankan:
• Qarun menuduh Musa ‘alaihis salam berbuat zina (Tafsir Kabir, Juz VI, hal. 409) dan (Tafsir Khazin, Juz V, hal. 102).
• Telah disebutkan dalam Tafsir Jalalain berkenaan dengan Nabi Daud ‘alaihis salam demikian:

Daud adalah mempunyai 99 istri dan dia minta lagi isteri orang yang hanya mempunyai satu isteri saja, lalu dia kahwini dan dia setubuhi (Tafsir surat Shad ayat 23).

Telah disebutkan dalam (Tafsir Jami’ul-Bayan) tentang ayat itu begini:

Daud telah melihat isteri seorang lain, lalu ia suka kepada perempuan itu dan minta kepada suaminya supaya menceraikannya.

• Telah disebutkan juga dalam Tafsir Jalalain tentang ayat surat Shad, begini:

Kami Allah telah menguji Sulaiman dengan kerajaan-Nya, karena dia telah kawin dengan seorang perempuan yang Dia telah ciptakan dahulu dan biasanya perempuan itu menyembah berhala di rumahnya dengan tidak diketahuinya.

Menurut keterangan ini, Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pun telah mencintai seorang perempuan yang menyembah berhala.

• Telah disebutkan dalam Tafsir Jalalain dan Jami’ul-Bayan dll. Bahwa tatkala Zulaikha berniat hendak berbuat zina dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam, maka Nabi Yusuf ‘alaihis salam pun juga berniat demikian. Akan tetapi karena Nabi Yusuf ‘alaihis salam telah melihat Nabi Ya’kub ‘alaihis salam, maka ia tidak jadi berbuat zina karena malu dan takut kepada Nabi Ya’kub ‘alaihis salam. Telah disebutkan:


Jika Yusuf tidak melihat keterangan Tuhannya (dengan rupa Nabi Ya’kub), sungguh ia bersetubuh juga dengan Zulaikha itu. Lihatlah! Bagaimana keterangan para Ulama kita berkenaan dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam?

• Jangankan Nabi lain, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Penghulu semua orang suci pun tidak lepas dari tuduhan demikian itu. Telah disebutkan dalam Al-Kamalain Hasyiyah Tafsir Jalalain tentang ayat:


Dan engkau merahsiakan dalam batinmu apa yang Allah hendak membukanya, dan engkau takut kepada manusia, dan Allah mempunyai hak yang lebih besar bahwa engkau takut kepada-Nya (Al-Ahzab:38).

Para Imam Tafsir seperti: Qatadah, Muqatil, Ibnu Jarir Ath-Thabari dll berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jatuh cinta kepada Zainab sehingga Imam Muqatil berkata:


Bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Zaid, lalu beliau melihat isterinya, Zainab yang sedang berbaring dan adalah Zainab seorang perempuan putih bersih kulitnya, cantik dan tegap badannya dan sebaik-baik perempuan di antara kaum Quraisy, maka Nabi itu jatuh cinta kepadanya.

Pembaca yang terhormat! Saya telah menyebutkan beberapa keterangan ini supaya tuan-tuan dapat mengetahui bahwa bukan hanya musuh para Nabi saja, bahkan para pengikut pun menuduh beliau-beliau itu dengan tuduhan semacam tuduhan Ahmad Dahlan ini.

Sebenarnya Ahmad Beg dan saudaranya Imamuddin adalah musuh Islam, sehingga ada di antaranya yang sudah pernah menginjak-injak Al-Qur’an Majid di bawah kakinya, Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam selalu memberi nasihat supaya mereka bertaubat dan mengikuti ajaran Islam, akan tetapi usaha beliau tidak berhasil bahkan mereka bertambah durhaka dan memberontak kepada Islam serta menghina beliau, maka Allah Ta’ala memberitahukan kepada Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam Al-Qadiyani bahawa Ahmad Beg akan binasa dalam beberapa tahun nanti.

Mengingat Allah Maha Pengasih, maka Dia juga memberi kesempatan kepada Ahmad Beg untuk bertaubat dan untuk menerima rahmat-Nya. Oleh karena itu Dia memberitahukan lagi kepada Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam bahwa kalau Ahmad Beg redha menikahkan puterinya dengan beliau, maka karena berkat hubungan dia akan mendapat rahmat dan mendapat taufiq untuk mengikuti Islam menurut teladan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam yang suci. Akan tetapi kalau dia tidak mengadakan hubungan dan tidak bertaubat, maka pasti dia akan dibinasakan oleh Allah Ta’ala.

Perkara ini adalah berhubungan dengan diri Ahmad Beg, oleh karena beliau tidak menyebarkan apa-apa tentang perkara itu. Nampaknya Ahmad Beg ribut dan menyebarkan khabar itu dengan niat untuk membusukkan nama Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam. Perlu diketahui bahawa pada waktu Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam belum mendirikan Jamaah dan belum menerima bai’at bahkan kalau ada orang yang hendak bai’at kepada beliau, beliau menolak dan bersabda:

Aku belum disuruh menerima bai’at.

Beliau mulai menerima bai’at pada tahun 1889 M dan mendirikan Jamaah pada tahun 1890 M, sedang kejadian Ahmad Beg mulai tahun 1886 M sampai 1888 M. Jadi, Ahmad Beg menentang beliau hanya karena beliau menyuruhnya taat kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan untuk menjadi murid beliau, bukan! Bukan hanya itu, bahkan Ahmad Beg minta tanda atas kebenaran Islam hanya untuk memperolok-olokkan saja. Melihat keadaan Ahmad Beg dan keluarganya yang sangat durhaka itu Allah Ta’ala hendak menyatakan kekuasaan-Nya juga, maka Dia memberitahukan bahawa kalau Ahmad Beg menikahkan anaknya dengan orang lain, maka setelah anak itu dinikahkan, Ahmad Beg akan binasa masa dalam 3 tahun dan suami Muhammadi Begum akan binasa dalam masa 2 tahun setengah dan akhirnya Muhammadi Begum akan kembali juga kepada beliau.

1. Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam menulis bahwa Allah ta’ala memberitahukan kepada saya:

Setelah pernikahan Muhammadi Begum, suami dan bapanya akan binasa dalam masa 3 tahun, lalu Kami akan mengembalikan dia kepada engkau (Karamatush-Shadiqin).

Perkataan ini menyatakan bahwa Muhammadi Begum akan dinikahkan dengan orang lain dan setelah pernikahan Muhammadi Begum, suaminya dan bapanya akan mati lebih dahulu, barulah dia akan kembali kepada beliau. Artinya kalau suaminya tidak mati kerena bertobat, maka sudah tentu dia tidak boleh kembali kepada beliau.

2. Beliau ‘alaihis salam menulis lagi:


Maksud sebenarnya dari kabar-kabar itu ialah membinasakan mereka dan engkau ketahui bahwa perkara kebinasaan ialah dasar kabar itu. Adapun pernikahan Muhammadiy Begum dengan saya sesudah binasanya beberapa lelaki dan perempuan adalah untuk mengagungkan tanda saja (Anjami Atham, hal. 216).

3. Ada satu ilham lagi yang bunyinya:


Wahai ibu perempuan bertobatlah engkau! Karena anak cucu engkau akan menderita, azab dan musibah akan turun kepada engkau. Dia (Ahmad Beg) akan binasa dan akan tinggal beberapa anjing yang menggonggong.

Ketiga ilham ini menyatakan bahawa:
1) Ahmad Beg akan menikahkan anak perempuannya, bernama Muhammadi Begum dengan orang lain.
2) Setelah pernikahan Muhammadi Begum (kalau mereka tidak bertobat kepada Allah), Ahmad Beg akan binasa dalam masa 3 tahun dan suami Muhammadi Begum dalam masa dua setengah tahun, setelah itu barulah Muhammadiy Begum akan kembali kepada beliau.
3) Ahmad Beg tidak akan bertobat, maka dia akan dibinasakan (perkataan ini menunjukkan bahwa suami Muhammadi Begum akan bertobat, maka tidak akan dibinasakan).
4) Oleh karena suami Muhammadi Begum akan bertobat dan tidak akan dibinasakan dan Muhammadi Begum tidak akan kembali kepada beliau, maka beberapa orang yang memusuhi beliau ‘alaihis salam akan mengeluarkan perkataan-perkataan yang kotor kepada beliau.

Inilah maksud ringkas ilham-ilham tersebut. Dan sebagaimana telah diberitahukan dengan ilham-ilham itu, maka benar-benar telah terjadi:
1) Ahmad Beg telah menikahkan anak perempuannya bernama Muhammadi Begum dengan Mirza Sulthan Ahmad pada 7 April 1892 M.
2) Kemudian, Ahmad Beg hidup hanya 5 bulan 24 hari saja dari pernikahan Muhammadi Begum dan pada 30 September 1892 M dia mati.
3) Mirza Sulthan Ahmad merasa takut karena melihat keadaan bapa mertuanya dan ia tidak mendustakan beliau ‘alaihis salam lagi.

Pada waktu itu orang ribut mengatakan bahwa ilham Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam itu tidak benar, karena Mirza Sulthan Ahmad tidak jadi mati dalam masa 2 setengah tahun.

Sehubungan dengan kes ini, perhatikanlah hal-hal berikut ini:
1) Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam menjawab bahwa azab maut itu telah lewat, karena Mirza Sulthan Ahmad sudah mengubah keadaannya. Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam bersabda: “Setelah kematian Ahmad Beg, beberapa orang tua dari Mirza Sulthan Ahmad telah mengirimkan 2 surat kepada saya. Dalam surat-surat itu dijelaskan keadaan Sulthan Ahmad bertobat dan minta ampun. Maka melihat tanda-tanda itu saya yakin bahwa hari kematian Mirza Sulthan Ahmad tidak dapat ditetapkan lagi” (Isytihar, 6 September 1894 M).

2) Tatkala orang-orang ribut, Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam menulis:
“Mintalah kamu kepada Mirza Sulthan Ahmad supaya dia menyiarkan dengan terang-terangan bahwa dia masih mendustakan saya. Apabila ia menyiarkan hal itu, maka Allah Ta’ala akan menetapkan lagi waktu kematiannya. Kalau sekiranya Mirza Sulthan Ahmad tidak mati pada waktu itu, maka saya akan mengaku sebagai pendusta (Anjami Atham, Chasyiyah Dhamimah, hal. 32). Mirza Sulthan Ahmad mana mau menyiarkan begitu. Banyak orang minta kepadanya, akan tetapi dia tidak berani mengikuti keinginan mereka.

3) Mirza Sulthan Ahmad sendiri telah menulis surat yang bunyinya:
“Saya mengakui bahwa Mirza (Ghulam Ahmad) yang dihormati itu adalah seorang yang saleh, seorang yang mulia, khadim bagi agama Islam yang suci dan waliyullah”. Surat ini ditulis pada 20 Maret 1913 M dan disiarkan dalam surat kabar Al-Fadhl dll.

4) Pada bulan Jun tahun 1921 M dia memberi keterangan lagi berkenaan dengan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam begini: “Bapa mertua saya Mirza Ahmad Beg itu memang telah mati menurut ilham Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, akan tetapi karena Allah Maha Pengasih lagi Pengampun, maka Dia mendengar juga doa para hamba-Nya dan mengasihinya”. (Surat Kabar Al-Fadhl, 9 Juni 1921 M). Yakni tatkala Bapa mertuanya Ahmad Beg telah mati, maka dia bertobat dan minta ampun kepada Allah. Oleh karena itulah dia tidak jadi mati.

5) Mirza Muhammad Ishak anak Muhammadi Begum sendiri telah menyiarkan satu surat tertanggal 26 Februari 1932 M. Dalam surat itu dia menulis: “Memang datuk saya Mirza Ahmad Beg telah binasa menurut ilham Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihis salam dan para anggota keluarga saya yang lain mulai memperbaiki keadaannya. Apa keterangannya? Keterangannya ialah sebagian besar dari keluarga saya telah masuk Ahmadiyah”. (Surat kabar Al-Fadhl, 26 Februari 1932).

6) Sebagaimana kata Mirza Muhammad Ishak anak Muhammadi Begum, sebagian besar keluarga Muhammadiy Begum sampai anaknya pun telah masuk Ahmadiyah. Di antara nama-nama mereka itu sebagai berikut:
(1) Istri Mirza Ahmad Beg (ibu Muhammadi Begum);
(2) Saudaranya Muhammadi Begum;
(3) Mirza Hasan Beg, anak saudara Mirza Ahmad Beg;
(4) Inayat Begum, anak Mirza Ahmad Beg;
(5) Mirza Muhammad Beg, anak Mirza Ahmad Beg;
(6) Mirza Mahmud Beg, cucu Ahmad Beg;
(7) Mirza Kal Muhammad, anak saudara Mirza Ahmad Beg;
(8) Mahmud Begum, anak Mirza Ahmad Beg;
(9) Mirza Muhammad Ishak, anak Muhammadi Begum sendiri.

Kalau sekiranya Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam seorang jahat, mana mungkin isteri dan anak cucu Mirza Ahmad Beg yang begitu baik masuk Ahmadiyah? Begitu juga kalau ilham Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam tidak benar, mana mungkin mereka senang menjadi murid-murid beliau ‘alaihis salam.

Jadi, masuknya mereka ke dalam Jamaah Ahmadiyah adalah satu bukti nyata bahwa wahyu Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam adalah benar dan beliau memang seorang hamba Allah yang suci yang diutus untuk memperbaiki keadaan manusia di masa ini. Sebelum saya menamatkan perkara ini, saya hendak menyebutkan juga satu dua keterangan yang menunjukkan bahwa manusia boleh lepas dari azab Tuhan kalau dia bertobat dan minta ampun atas dosa-dosanya.

Hadhrat Imam Fachruddin Ar-Razi menulis dalam Tafsirnya:

Menurut fatwa saya semua perjanjian azab bergantung dengan tidak memberi maaf, maka kalau perjanjian azab tidak dipenuhi karena dimaafkan, maka tidak boleh dikatakan bahwa firman Allah dusta (Tafsir Kabir, Juz II, hal. 404).

Sudah jelas bahwa perjanjian azab dipenuhi kalau orang yang hendak diazab tidak minta maaf. Kalau dia sudah minta maaf, maka Allah Ta’ala mengampuni kesalahannya dan azab yang dijanjikan tidak jadi diturunkan, karena turunnya azab bergantung dengan tidak diberikan maaf kepadanya.

Telah disebutkan dalam Tafsir Ruhul-Ma’ani, Juz II, hal. 8, begini:

Sesungguhnya turunnya azab kepada orang-orang fasiq adalah bergantung dengan tidak adanya pemberian maaf.

Menurut keterangan ini juga apabila Allah ta’ala berjanji akan menurunkan adzab kepada orang-orang fasiq (jahat), maka maksudnya kalau orang-orang fasiq tidak minta maaf atau tidak dimaafkan oleh Allah, barulah adzab itu akan diturunkan. Akan tetapi kalau Allah ta’ala memberikan maaf kepada orang-orang fasiq sudah tentu azab tidak akan diturunkan lagi. Contoh konkrit dalam hal ini ialah kejadian kaum Nabi Yunus, mereka diberi tahu bahwa adzab Allah akan diturunkan kepada mereka dalam beberapa hari ini, mendengar kabar itu mereka bersusah hati dan bertobat kepada Allah, maka azab itu tidak jadi diturunkan kepada mereka.

Pendek kata, Mirza Ahmad Beg, Imamuddin dsn lain-lain telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya serta menghinakan Islam, bahkan sudah menginjak-injak Al-Quranul-Majid. Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam telah memberi nasehat kepada mereka akan tetapi mereka tidak mau mengikuti bahkan mengolok-olok Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam yang telah memberi nasehat itu.

Allah ta’ala mula-mula memberi kabar bahwa Mirza Ahmad Beg akan dibinasakan. Meskipun begitu Allah yang Pengasih dan Penyayang memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat dan untuk menerima rahmat yaitu dengan mengadakan hubungan yang dekat dengan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam, akan tetapi dia tidak mau menerimanya. Maka dari itu dia dibinasakan oleh Allah ta’ala. Adapun Mirza Sulthan Ahmad (suami Muhammadiy Begum) telah meninggalkan keadaan Bapa mertuanya, karena itu dia terpelihara dari kebinasaan. Oleh karena pernikahan Muhammadiy Begum dengan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam bergantung dengan kebinasaannya, maka dari itu pernikahannya tidak jadi.

Ahmad Dahlan mengatakan Mirza Ahmad Beg adalah mempunyai seorang anak perempuan “yang terlampau sangat cantik parasnya bernama Muhammadiy Begum” (Lihat Musang Berbulu Ayam, hal. 43). Kami bertanya: Apakah Ahmad Dahlan sudah pernah melihat anak yang terlampau amat cantik parasnya itu?. Dari manakah dia mengetahui keadaan Muhammadiy Begum?

Sebenarnya Ahmad Dahlan tidak tahu apa-apa tentang hal ini, akan tetapi dia terpengaruh oleh syetannya, maka dia berkata yang tidak benar untuk membesar-besarkan perkara itu. Pada waktu perkara ini terjadi, Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam mempunyai banyak murid, walaupun Jamaah beliau belum didirikan dan belum menerima bai’at. Akan tetapi sudah banyak orang yang setia mentaati beliau. Bukan saja seorang kalau ketika itu beliau hendak menikah sampai empat orang perempuan menurut peraturan Islam, maka mudah saja bagi beliau untuk melakukan pernikahan itu, akan tetapi beliau tidak menghendakinya. Perkara Muhammadiy Begum ini sebagaimana beliau telah jelaskan bukan perkara pernikahan, tujuan perkara ini ialah
memperbaiki keadaan keluarga. Dengan demikian, tujuan itu telah berhasil, buktinya sebagian besar keluarga Muhammadiy Begum telah masuk Ahmadiyah dan menjadi orang-orang Islam sejati.

Keluarga Mirza Ahmad Beg dapat memperoleh petunjuk, akan tetapi tidak ada harapan bagi Ahmad Dahlan ini mendapat petunjuk dari Allah ta’ala. Ahmad Dahlan menulis lagi bahwa Ahmad Beg tidak cepat terpedaya kepada wahyu syetan itu dan jantung hatinya yang baru berumur 14 tahun tidak akan diserahkan menjadi istri orang tua yang telah berusia 50 tahun lebih yang telah berbunga kepala (Musang Berbulu Ayam, hal. 44).

Rupanya Ahmad Dahlan setuju benar dengan seorang (Ahmad Beg) yang tidak beriman kepada Allah yang pernah menginjak-injak Al-Quranul-Majid, tidak pernah menunaikan shalat dan selamanya mengolok-olokkan Islam yang suci. Dan Ahmad Dahlan mengharamkan orang yang telah berumur 50 tahun menikah dengan seorang perempuan yang berumur 14 atau 15 tahun. Apakah Ahmad Dahlan tidak mengetahui bahwa tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Siti Aisyah yang ketika itu umur beliau 53 tahun, sedang umur Aisyah hanya 9 tahun atau 10 tahun? (Lihat Hadis Al-Bukhari, Juz III, hal. 213 bab Tazwijun-Nabiy Aisyah). Pada akhirnya Ahmad Dahlan menulis “Nabi tahu juga bercinta?” (Musang Berbulu Ayam, hal. 46).

Saudara-saudara! Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa suami Muhammadiy Begum sendiri mengakui bahwa Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam seorang yang hidup dengan taqwa, seorang yang sangat shaleh dan seorang yang hidup dengan kemuliaan lahir dan batin, akan tetapi Ahmad Dahlan menuduh beliau itu “Bercinta-cintaan”. Siapakah yang dapat dipercaya dalam hal ini, suami Muhammadiy Begum sendiri atau Ahmad Dahlan yang pembohong inikah?

Bukan itu saja, anak Muhammadiy Begum yaitu Mirza Muhammad Ishak telah masuk Ahmadiyah dan sebagaimana telah disebutkan dia telah menyatakan dengan terus terang bahwa Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam memang Utusan Allah yang benar dan suci hidupnya. Selain anak Ahmad Beg, bernama Muhammadiy Begum, saudara-saudaranya dan kaum kerabatnya yang lain pun sudah menjadi murid Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam. Apakah orang yang bercinta-cintaan itu mendapatkan pertolongan dan kemuliaan yang begitu besar dari Allah?

Ahmad Dahlan mustahil dapat menunjukkan gerak-gerik, tingkah laku atau perkataan ataupun tulisan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam yang menyalahi ajaran Islam sedikit pun juga dalam hal ini, bahkan beliau tetap berdiri di atas ketaqwaan dan dalam segala hal kesucian beliau disaksikan oleh kawan dan lawan. Tinggal lagi beliau hendak menikah akan tetapi tidak jadi, maka hal itu tidak menjadi kesalahan apa pun, karena tidak perlu semua maksud atau kehendak para Nabi atau hamba Allah mesti berhasil.

Anak Nabi Nuh ‘alaihis salam yang bernama “Yam” telah mati tenggelam. Nabi Nuh ‘alaihis salam berdoa kepada Allah ta’ala agar anaknya dijaga, akan tetapi maksud beliau tidak berhasil. Begitu juga istri Nabi Luth, tidak percaya kepada beliau. Apakah
beliau tidak mau istrinya beriman kepada beliau? Tentu beliau mau, akan tetapi kemahuan beliau tidak tercapai.

Terlebih tatkala Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kabar bahwa ada seorang perempuan yang sangat cantik dan baik “Ibnatul-Jun”, maka beliau menikahinya. Perempuan itu didudukkan dalam satu tempat yang bagus, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam biliknya, beliau bersabda kepadanya:

Serahkanlah dirimu kepadaku

Mendengar sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ibnatul-Jun” berlaku kurang ajar, karena dia menjawab:

Pantaskah seorang putri raja menyerahkan dirinya kepada orang-orang pasaran (orang-orang biasa)?

Apa tindakan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam? Telah disebutkan:

Nabi hendak meletakkan tangannya di atas perempuan itu supaya dia tenang. Melihat demikian itu perempuan itu berkata:-


Saya berlindung kepada Allah dari engkau, wahai Muhammad!

Peristiwa ini telah disebutkan dalam Hadis Al-Bukhari, Juz III bab Yuwajihur-Rajulum-ra’atahu bith-Thalaq dan dalam babusy-syurbi min Qadachin-Nabiy dan telah disebutkan pula dalam Al-Qasthalani tulisan tangan di Perpustakaan Pejabat Agama Johor).

Hadis ini menyatakan bahwa terkadang kehendak Nabi pun tidak berhasil, karena Nabi itu manusia juga, bukan Tuhan. Perhatikanlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulia manusia dan penghulu semua orang suci dan beliau telah menikah pula dengan perempuan itu, akan tetapi dia berlaku kurang ajar terhadap beliau.

Jadi, keinginan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam mahu menikahi Muhammadiy Begum tidak disalahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi perkara Muhammadiy Begum bukan datang dari beliau sendiri, tetapi datang dari Allah dan itu pun bergantung kepada kebinasaan Sulthan Ahmad, kalau dia tidak bertobat. Alhamdulillah dengan berkat Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam orang-orang itu telah kembali kepada Islam dan bertobat, dengan demikian maksud ilham itu sebenarnya telah tercapai. Pendek kata, oleh karena menurut ilham Allah kepada Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam bahwa Mirza Sulthan Ahmad tidak jadi mati (binasa), maka perjanjian yang tergantung dengan kebinasaan itu pun tidak berlaku lagi. Inilah hakikat perkara ini!!!

__________________

Jadi, berhati-hatilah dalam membuat fatwa atau kenyataan, hati-hati dengan fitnah. Kalau memang tidak bersetuju dengan fahaman dari Jemaat Ahmadiyah, tidak apa, tetapi biarlah ketidakbersetujuan itu disertakan dengan kejujuran, bukannya dengan cara menyebarkan fitnah yang tidak berasas seperti ini.

7 comments:

  1. Salam
    boleh jelaskan mengenai mengenai Al-Quran Surah 63:ayat 11 berhubung mengenai waktu kematian. Jika beradasarkan petikan cerita diatas, Allah SWT telah mengilham kepada Mirza Ghulam Ahmad mengenai waktu kematian suami Muhammadi Begum. tetapi kematian tersebut tidak berlaku sebagaimana yang dinyatakan. Adakah disini ayat 11 dari surah 63 ini tidak dipatuhi?

    ReplyDelete
  2. Salam.
    Berkenaan dengan suami Muhammadi Begum dalam hal ini adalah bersyarat. jika tuan baca dengan teliti penjelasan di atas berkenaan mereka, pasti tuan akan dapat fahami bahawa janji itu tidak berlaku disebabkan suami Muhammadi Begum telah bertaubat, tidak seperti yang telah menimpa Mirza Ahmad Beg.

    "Allah ta’ala mula-mula memberi kabar bahwa Mirza Ahmad Beg akan dibinasakan. Meskipun begitu Allah yang Pengasih dan Penyayang memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat dan untuk menerima rahmat yaitu dengan mengadakan hubungan yang dekat dengan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam, akan tetapi dia tidak mau menerimanya. Maka dari itu dia dibinasakan oleh Allah ta’ala. Adapun Mirza Sulthan Ahmad (suami Muhammadiy Begum) telah meninggalkan keadaan Bapa mertuanya, karena itu dia terpelihara dari kebinasaan".

    ReplyDelete
  3. ini bermakna janji Allah Taala pun boleh berubah2 jua...tiada ketetapan sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat 11 Surah63?

    ReplyDelete
  4. salam.
    boleh direnungkan keterangan ini
    "Sesungguhnya turunnya azab kepada orang-orang fasiq adalah bergantung dengan tidak adanya pemberian maaf.

    Menurut keterangan ini juga apabila Allah ta’ala berjanji akan menurunkan adzab kepada orang-orang fasiq (jahat), maka maksudnya kalau orang-orang fasiq tidak minta maaf atau tidak dimaafkan oleh Allah, barulah adzab itu akan diturunkan. Akan tetapi kalau Allah ta’ala memberikan maaf kepada orang-orang fasiq sudah tentu azab tidak akan diturunkan lagi. Contoh konkrit dalam hal ini ialah kejadian kaum Nabi Yunus, mereka diberi tahu bahwa adzab Allah akan diturunkan kepada mereka dalam beberapa hari ini, mendengar kabar itu mereka bersusah hati dan bertobat kepada Allah, maka azab itu tidak jadi diturunkan kepada mereka."

    ReplyDelete
  5. Saya merujuk kepada kenyataan ini "Setelah pernikahan Muhammadi Begum, suami dan bapanya akan binasa dalam masa 3 tahun, lalu Kami akan mengembalikan dia kepada engkau (Karamatush-Shadiqin)." yang diungkapkan oleh Maulana tuan, bahwa ia suatu perkhabaran dari ALLAH Taala. dan tidak dinyatakan pun pengecualian jika kedua2nya kembali janji tersebut akan dibatalkan dalam hal ini. Malah kalimah 'yamutu' digunakan.
    sedangkan dalam kisah nabi Yunus, terdapat pernyataan hanya orang2 yang beriman akan diselamatkan. Maka mereka yang kembali beriman tidak diazabkan.
    Soal azab juga bukanlah suatu yang dapat dilihat dengan zahir. Malah dalam surah yunus ayat 98-103 tidak dinyatakan tempoh berlakunya azab tersebut.
    Sedangkan kenyataan Maulana tuan ditetapkan 3 tahun. suatu janji yang pasti. Oleh itu bila tidak berlaku kematian tersebut maka ia sudah pasti bercanggah dengan ayat 11 surah 63.

    ReplyDelete
  6. @ibnmahdzir

    Dalam ilham tersebut, tempoh kematian tersebut adalah 'conditional' iaitu jik tidak bertaubat.
    *Jangan ambil potongan ilham itu sebegitu sahaja tanpa melihat keseluruhan konteks*

    Mirza Sulthan Ahmad telah bertaubat, maka Allah tidak membinasakan beliau.

    Ini sahaja sudah menunjukkan bahawa janji Allah SWT itu pasti.

    ReplyDelete
  7. Manusia sombong...kebenaran sudah di depan mata..ditolaknya juga.., kembali pada quran dan sunnah wahai si bodoh sombong... itu yang sepatutnya

    ReplyDelete