Thursday, February 3, 2011

AKIDAH JEMAAT AHMADIYAH


AQIDAH AHMADIYAH

Dengan karunia Allah subhanahu wa ta‘ala, kami Ahmadiyah adalah orang-orang yang beragama Islam, kami mempunyai keyakinan bahwa agama Islam itulah satu agama yang sempurna yang tidak akan dimansukhkan lagi sampai hari Qiamat. Siapa saja yang tidak mengikuti Islam, maka kepercayaannya tidak benar dan agamanya yang lain itu tidak akan dikabulkan.

Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:
Dan, siapa saja yang memilih selain Islam sebagai agama, maka darinya tidak diterima dan di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran, 3:86)

Al-Quranul-Majid adalah firman Allah yang suci dan Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berpangkat Khataman-Nabiyyin. Tidak ada kitab (syari’at) baru lagi atau Nabi yang membawa agama baru sesudah beliau itu.

Rukun Islam kami ada lima perkara:

1. Mengucapkan dua Kalimah Syahadat, yaitu:
Saya menyaksikan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah; dan saya menyaksikan bahwa Muhammad itu pesuruh Allah.
2. Mendirikan Shalat lima waktu dalam sehari-semalam.
3. Berpuasa pada bulan Ramadhan
4. Membayar Zakat kalau sudah cukup nishab.
5. Naik haji ke Mekkah Al-Mukarramah kalau mampu.

Demikian juga Rukun Iman kami ada enam perkara:

1. Percaya kepada Allah Ta‘ala.
2. Percaya kepada para Malaikat-Nya.
3. Percaya kepada Kitab-kitab-Nya.
4. Percaya kepada Rasul-rasul-Nya.
5. Percaya kepada Hari Qiamat.
6. Percaya kepada Taqdir Allah Ta‘ala.


Inilah kepercayaan kami secara ringkas. Sekarang, saya hendak menjelaskan kepercayaan Ahmadiyah itu dengan mengambil keterangan dari beberapa tulisan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam sendiri:

BERKENAAN DENGAN ALLAH


Beliau telah bersabda:
Kami beragama Islam, kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya Yang Maha Tunggal (Nurul-Haq, Juz I, hal. 6).

Sabdanya lagi:
Saya beraqidah dari lubuk hati yang dalam bahwa Allah itu adalah Yang menjadikan alam, Dia itu Esa, Maha Kuasa, Maha Mulia dan menguasai segala sesuatu yang nampak dan yang sembunyi (Mir’atu Kamalatil-Islam, hal. 384).

Sabdanya lagi:
Allah itu Tunggal, Kekal berdiri sendiri tidak beranak dan tidak bersyarikat (Anjami atam, hal. 267).

Beliau bersabda lagi:
Dengan kemuliaan Allah saya bersumpah bahwa saya mengutamakan keridhaan-Nya melebihi segala perkara dan pintu-Nya melebihi segala pintu lain; dan kesukaan-Nya melebihi kesukaan orang lain dan bahwa Dia beserta dengan saya setiap waktu dan saya pun mengikuti-Nya dalam segala hal; dan saya telah mengutamakan kegiatan agama dan dialah yang mencukupi saya; walaupun saya tidak mempunyai harta benda dunia apa apa; aku mendapatkan kenikmatan meski takada apaapa di tangan; cinta kepada Tuhan tertanam di hati saya dan saya mendapatkan pangkat ruhani yang tidak dapat dikenal oleh manusia mana saja di masa sekarang (Tuhfatu Baghdad, hal. 19).

Sabdanya lagi:
Kepada Allah saja saya menuju; pada tiap-tiap waktu pena saya bergerak.

BERKENAAN DENGAN MALAIKAT

Beliau telah bersabda:

Aku beraqidah bahwa Allah mempunyai malaikat, …masing-masing dari mereka itu mempunyai martabat yang tertentu (Miratu Kamalatil-Islam, hal. 284)

Sabdanya lagi:
Dan kami beriman kepada malaikat Allah dan dengan martabat mereka dan kami beriman bahwa turunnya mereka itu seperti turunnya nur, bukan seperti pindahnya manusia dari satu negeri ke negeri lain (Tuhfatu Baghdad, hal. 25).

BERKENAAN DENGAN KITAB

Beliau telah bersabda:

Aku bersumpah dengan kemuliaan Allah bahwa aku seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Kitab-kitab-Nya (Chmaamatul-Busyraa, hal. 13).

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Aku beriman kepada Allah , Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya (Izaalatul-Auhaam, hal. 2).

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Bersaksilah kamu bahwa kami kami berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Quran dan kami mengikuti sabda Rasulullah yang menjadi sumber kebenaran dan ilmu makrifat, dan kami menerima apa-apa yang telah diijma’kannya pada masa itu, kami tidak menambah apaapa dan tidak pula mengurangi apa-apa darinya dan kami hidup dan mati atasnya. Siapa saja yang menambah apa-apa dalam syari’at atau mengurangi atau mengafiri aqidah yang telah diijma’kan, maka ia akan mendapat kutukan Allah, kutukan malaikat dan manusia semuanya (Anjami Atam, hal. 144).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Sesungguhnya semua kebaikan ada di dalam Al-Quran dan dalam Hadis yang tertuju dengannya. Mereka yang mencari selain darinya, maka mereka termasuk orang-orang yang melanggar batas (Mawahibur-Rahman, hal. 62).


Beliau ‘alaihis salam bersabda:
Dan aku bersyukur kepada Allah karena aku tidak mendapatkan satu pun ilham dari ilham-ilhamku yang menyalahi Kitab Allah, bahkan aku mendapati segala ilham, sesuai dengan Kitab Tuhan sekalian alam, yaitu Al-Quranul-Majid (Chamaamatul-Busyraa, hal. 96).

BERKENAAN DENGAN PARA RASUL

Beliau ‘alaihis salam telah bersabda:
Segala puji bagi Allah yang telah berbuat baik kepada kami dengan mengutus para Rasul dan Kitab-kitab dan telah menjadikan Nabi-nabi itu sebagai tali untuk kemah-kemah tauhid dan menghubungkan dibelakang mereka wali-wali supaya menjadi paku bagi tali-tali dan shalawat dan salam kepada sebaik-baik dan semulia-mulia Rasul, yaitu Khaatamun-Nabiyyiin dan yang akan memberi syafa’at untuk orang-orang yang berdosa dan beliau itu lebih utama dari semua orang dahulu dan kemudian dan pula shalawat dan salam bagi para pengikutnya yang suci dan yang disucikan (Anjaami Atahm, hal. 73).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Aku beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya (Izaalatul-Auhaam, hal. 2)

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Ketahuilah wahai saudaraku, kami beriman kepada Allah, sebagai Tuhan dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatamun-Nabiyyiin, kami beriman kepada Al-Quran bahwa itu dari Allah Yang Pengasih dan kami tidak menerima apa saja yang menyalahi Al-Furqan (Al-Quran) dan keterangan-keterangan, dan hukum-hukumnya, kisah-kisahnya meskipun perkara itu timbul dari akal manusia atau dari riwayat-riwayat yang dinamakan Hadis oleh para Ahli Hadis atau dari kata-kata sahabat dan tabi’in (Tuhfatu Baghdad, hal. 23).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Demi Allah, Muhammad adalah semulia-mulia makhluk dan beliau itu Nur Allah yang menghilangkan segala kegelapan.

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Mu’jizat para Nabi itu benar (Mir’aatu Kamaalaatil-Islaam, hal. 367).

BERKENAAN DENGAN HARI AKHIR

Beliau ‘alaihis salam telah bersabda:
Kami beriman bahwa kebangkitan sesudah mati itu benar, Surga dan Neraka itu benar dan segala apa yang ada di dalam Al-Quran itu benar dan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah semulia-mulia Nabi dan penghulu semua Rasul (Muhammad) itu benar, dan siapa saja yang menuduh kami dengan perkara yang menyalahi syari’at dan Al-Quran walaupun sedikit, maka sungguh dia telah mengadakan kedustaan yang nyata kepada kami (Tuhfah Baghdad, hal. 25)

Lagi beliau ‘alaihis salam bersabda:
Dan kami beriman kepada malaikat, hari Kebangkitan, Surga dan Neraka (Nurul-Haqq, Juz I, hal. 6)

Lagi beliau ‘alaihis salam bersabda:
Kami beri’tiqat bahwa Surga dan Neraka itu benar (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 387).

BERKENAAN DENGAN TAQDIR

Beliau ‘alaihis salam bersabda:
Kepunyaan Allah saja segala kemuliaan dan kebesaran, dan dari-Nya qadar dan qadha’ dan perintah-Nya didengar oleh bumi dan langit (Mawaahibur-Rahmaan, hal. 116).

Inilah kepercayaan Ahmadiyah yang telah dijelaskan dalam bukubuku Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam sendiri.

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Ketahuilah bahwa Islam itu agamaku tauhid itu keyakinanku (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 388).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Kami berlepas diri dari setiap hakikat yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam (Tuhfatu Baghdad, hal. 25).

Adapun perselisihan yang terdapat di antara kami dengan orang-orang Islam lain itu sebagai berikut:
1.      Kami beri’tiqad bahwa Allah itu satu Dzat-Nya, sifat-Nya dan af’al-Nya dan Dia tidak bertempat, bahkan Dia telah ada sebelum alam ini dijadikan. Akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah itu beri’tiqad bahwa Allah itu bertempat dilangit.
2.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa malaikat Allah itu suci tidak berdosa, sedangkan orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada malaikat-malaikat yang sudah berbuat dosa.
3.      Orang-orang Ahmadiyah beriman bahwa Nabi-nabi itu suci dan ma’shum, sedang orang-orang yang bukan Ahmadiyah mengakui bahwa ada pula di antara Nabi itu yang melanggar perintah Tuhan dan ada di antara mereka yang telah berdusta dan lain-lain.
4.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Allah telah mengutus para Nabi dan para Rasul kepada setiap umat dan wajib kami percayai serta menghormati mereka itu, sedangkan mereka yang bukan Ahmadiyah tidak mempercayai sedemikian.
5.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Allah tetap bersifat mutakallim (berbicara), maka sebagaimana Dia telah berkata-kata dengan hamba-hamba-Nya di masa dahulu demikian juga Dia berkata-kata dengan hamba-hamba-Nya yang baik sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun wahyu yang mengandung hukum-hukum baru yang menyalahi syari’at Islam memang tidak akan turun lagi, sedangkan mereka yang bukan Ahmadiyah mengatakan bahwa tidak ada sembarang wahyu lagi, karena Allah tidak akan berkata-kata lagi sampai Qiamat.
6.      Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa Nabi-nabi yang membawa syari’at baru atau Nabi yang tidak mengikuti Islam itu tidak ada lagi. Adapun Nabi yang taat kepada Islam bahkan mendapatkan pangkat kenabian pun karena dengan berkat mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memang boleh ada sesudah beliau hanya untuk memajukan Islam saja. Akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa sembarang Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka yang mengaku menjadi Nabi itu Dajjal adanya.
7.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Nabi Allah Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam yang telah diutus kepada Bani Israil itu sudah wafat sebagaimana Nabi-nabi lainnya, akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam itu masih hidup di langit dengan tubuh kasarnya sampai sekarang.
8.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Nabi Isa yang dijanjikan itu adalah seorang dari ummat Islam sendiri bukan Nabi Isa yang telah diutus kepada Bani Israil dahulu, akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa Nabi Isa yang telah diutus kepada Bani Israil itu juga yang akan diutus kepada ummat Islam. Dan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa apabila Isa datang, ia tidak berpangkat Nabi lagi.
9.      Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa adzab Neraka itu tidak kekal selama-lamanya, ada masanya adzab itu akan habis walaupun panjang lamanya, hanya nikmat Surga saja yang kekal selamalamanya. Akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada manusia kafir yang akan dimasukkan ke Neraka untuk kekal selama-lamanya dan adzabnya tidak putus sampai kapan pun.
10.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa Isra’ dan Mi’raj itu benarbenar tejadi akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak naik ke langit dengan tubuh kasarnya, bahkan kejadian itu adalah satu kasyaf yang mulya. Adapaun orang yang bukan Ahmadiyah meyakini bahwa beliau sudah naik dengan tubuh kasarnya sampai di langit yang ketujuh bahkan sampai Sidratul-Muntaha dan Baitul-Ma’mur yang lebih tinggi dari langit yang ketujuh itu.
11.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa semua ayat Al-Quran itu mengandung kebenaran-kebenaran yang kekal, tidak ada di dalamnya satu ayatpun yang bathil, akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada banyak ayat-ayat Al-Quran yang tidak boleh dipakai lagi karena sudah dimansukh.
12.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa tiada paksaan dalam agama, Islam hendak mengemukakan segala kebenaran dengan keterangan yang melapangkan fikiran dan menerangi akal dan menimbulkan keyakinan di hati, akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa sembarang orang kafir boleh dibunuh karena kekafirannya apalagi ketika Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun, dia akan membunuh segala babi dan menurut kata Ulama dia akan membunuh pula semua orang-orang kafir yang tidak mau memasuki agama Islam (lihat Tafsir Al-Khazin Juz I, hal. 516 dan menurut fatwa Imam As-Syafi’I sembarang orang kafir boleh dibunuh karena kekafirannya saja lihat Bidayatul-Mujtahid Juz I, fasal Jihad).

Kepercayaan dan pengakuan Ahmadiyah ini berdasarkan kepada alasan-alasan Al-Quranul-Majid dan Hadis-hadis Nabi serta kami senantiasa bersedia untuk mengemukakan segala alasan itu insya Allah.

Pembaca yang dihormati! Keterangan-keterangan tadi sudah pernah dikirim kepada Syeikhul-Islam Mahmud Zuhdi di Kalang menurut Titah dari Kebawah Dule yang maha mulia Sulthan Selangor pada permulaan Agustus 1951. Akan tetapi tidak dapat dibantah oleh Pejabat Agama sampai sekarang. Terjemah keterangaan-keterangan bahasa Arab itu ditambah sekarang.


Monday, January 31, 2011

Lembaran Tarbiyat 02_2011



NASIHAT UNTUK ANGGOTA JEMAAT

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Saya sentiasa berdoa, tetapi kamu juga harus sama berdoa, menunaikan solat dan bertaubat. Apabila keadaan ini muncul, maka Allah Ta’ala akan memelihara kamu. ...... Allah Ta’ala akan cenderung kepada orang yang beriman dan akan memelihara mereka. MAN KAANA LILLAAHI KAANAL LAAHU LAHUU. Ramai orang mengikrarkan di mulut kalimah Laa Ilaaha Illallah, mendakwakan dirinya sebagai orang Islam dan beriman, tetapi mereka itu tidak menanggung sebarang kesusahan untuk Allah. Jika berlaku kesulitan, kesusahan atau menjalani perbicaraan, maka dengan segera mereka akan melupakan Tuhan dan mengingkari-Nya. Untuk orang seperti itu, Tuhan tidak akan mempedulikan mereka. Tetapi bagi orang yang mempunyai keimaman yang istimewa dan sentiasa bersama Allah walau dalam apa keadaan sekalipun, juga sentiasa bersedia menanggung kesusahan, maka Tuhan akan mengangkat kesusahan mereka.

Hati seorang insan menjadi cermin bagi dirinya, di dalamnya dia boleh melihat segalanya. Jadi, cara sebenar untuk menjauhkan kesedihan ialah dengan mengharapkan keampunan sepenuh hati atas dosa-dosa dan memperlihatkan hubungan yang setia dan ikhlas. Dan bai’at yang telah kamu ambil hendaklah diutamakan dari segala perkara kerana kamu akan ditanya nanti. Sekiranya kamu mempunyai keikhlasan yang sempurna, Allah tidak akan mensia-siakan kamu. Orang seperti itu akan diselamatkan oleh Allah bersama seluruh ahli keluarganya. Inilah hakikatnya dan jangan pernah lupa. Hanya melafazkan di mulut bahawa akan melakukan banyak perkara belum tentu ada berkat. Berkat yang sepatutnya ialah di dalam hati, dan itulah akar segala berkat. Dengan lidah, jutaan mengatakan mereka orang Islam. Jika dalam hati seseorang kuat hubungannya dengan Tuhan dan memperlihatkan kesetiaan, maka Tuhan juga datang kepadanya dengan penuh setia.

Jika saya mendoakan seseorang, dan hubungan mereka dengan Tuhan tidak bersih, tidak membuat hubungan dengan cara yang sebenar, maka bagaimana doa saya boleh memberi faedah? Tetapi jika hati mereka bersih dan tidak ada kotoran di dalamnya, maka doa saya untuknya menjadi cahaya di atas cahaya.

Kelihatan pada diri seorang tuan tanah, mereka sanggup meninggalkan Tuhan semata-mata untuk mendapatkan beberapa sen. Mereka tidak tahu bahawa Tuhan inginkan keadilan dan perikemanusiaan dan Dia mahu orang berpaling dari perlakuan jahat dan buruk serta yang memalukan. Orang yang dapat berbuat seperti itu, maka malaikat Tuhan akan bersama mereka. Tetapi, jika di dalam hati tidak ada ketakwaan dan ada bahagian syaitan di dalamnya, maka Tuhan tidak suka ada sekutu sehingga semua bahagian menjadi bahagian syaitan. Jadi, mereka yang hendak terselamat perlu menjadikan dirinya bahagian Tuhan, MAN KAANA LILLAAHI KAANAL LAAHU LAHUU. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang sodiq. Walaupun seluruh dunia menjadi musuhnya dan hendak menyerangnya, maka semua itu tidak akan dapat mengapa-apakannya. Tuhan Maha Kuat dan Berkuasa, dan insan dengan kekuatan imannya datang bernaung di bawah perlindungan-Nya, serta melihat keajaiban Kudrat dan Kekuatan Tuhan, dia juga tidak akan dapat dihinakan. Ingatlah bahawa Tuhan lebih hebat dari segala apa yang hebat, malah unggul dalam setiap perkara. Jadi, dirikanlah solat dengan hati yang tulus, giatkan diri dalam berdoa dan ajarkan ini kepada setiap ahli keluarga kamu. Jika datang kepada Tuhan dengan sempurna, maka tidak akan menanggung kerugian. Akar kerugian yang sebenar ialah dosa.” (Malfoozaat Jilid 3, halaman 63)

Saturday, January 29, 2011

Lembaran Tarbiyat 01_2011



HUBUNGAN DENGAN ALLAH MESTI BENAR

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Anggota jemaat kita hendaklah menjalinkan hubungan dengan Allah secara hakiki. Mereka harus bersyukur kerana Allah tidak meninggalkan mereka, malah memperlihatkan ribuan tanda-tanda kudrat-Nya. Adakah sesiapa di antara kamu yang tidak pernah melihat tanda-tanda? Saya mengatakan dengan benar bahawa setiap orang yang ada peluang untuk bersama-sama dengan kami, tidak ada di antara mereka yang tidak berpeluang untuk melihat dengan mata sendiri suatu tanda yang nyata.

Anggota jemaat kita amatlah perlu memikirkan tentang peningkatan iman. Juga perlu melahirkan keyakinan dan makrifat yang sempurna kepada Tuhan. Tidak malas dan lalai dalam melakukan amal soleh. Ini kerana, sekiranya malas maka untuk mengambil wudhu pun dirasakan satu musibat baginya, apalagi untuk mengerjakan tahajjud. Jika tidak lahir kekuatan untuk melakukan amal soleh dan tidak ada semangat untuk berlumba-lumba dalam kebaikan, maka tidak ada faedahnya mereka menjalinkan hubungan dengan kita.” (Malfoozaat Jilid 2, halaman 710)

BERAMAL SESUAI DENGAN AJARAN

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Orang yang dikira termasuk dalam jemaat kita ialah mereka yang menjadikan ajaran kita sebagai pedoman dan berusaha mengamalkannya sesuai dengan keberanian dan kekuatannya. Tetapi mereka yang hanya meletakkan nama lalu tidak beramal sesuai dengan ajaran, mereka hendaklah ingat bahawa Tuhan telah beriradah untuk menjadikan jemaat ini satu jemaat yang istimewa, dan tidak ada orang yang hanya menuliskan namanya boleh berada dalam jemaat ini. Pasti ada waktunya mereka sendiri akan terpisah dari jemaat ini. Sebab itu, amalkan ajaran ini semampu yang kamu boleh.” (Malfoozaat Jilid 2, halaman 711)

HAKIKAT ILMU

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Ilmu  tidaklah bermaksud mantik atau falsafah, malah ilmu yang haiki ialah yang dikurniakan oleh Allah Ta’ala. Ilmu seperti ini boleh menjadi sarana makrifat mengenai Allah dan juga boleh mendatangkan perasaan takut terhadap Allah. Seperti yang telah difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an INNAMAA YAKHSYALLAAHA MIN ‘IBAADIHIL ‘ULAMAA’U (Fatir:29). Jika dengan ilmu yang ada tidak mendatangkan perasaan takut kepada Allah, ingatlah bahawa ilmu itu tidak menjadi sarana kemajuan pengetahuan.” (Malfoozaat Jilid 3, halaman 7)

TUJUAN PENUBUHAN JEMAAT AHMADIYAH

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Aku diutus supaya dapat mendirikan kembali keagungan Rasulullah s.a.w yang telah hilang, dan juga aku dapat memperlihatkan kepada dunia tentang kebenaran Al-Qur’an, dan pekerjaan itu sedang berjalan. Tetapi, bagi mereka yang matanya ditutup, mereka tidak akan dapat melihat sedangkan sekarang ini jemaat telah menjadi terang seperti matahari dan ramai orang yang menjadi saksi akan tanda-tandanya.” (Malfoozaat Jilid 3, halaman 9)

Wednesday, January 26, 2011

Lembaran Tarbiyat 19



BUAT PERUBAHAN SUCI

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Anggota jemaat kita wajib mengamalkan ketakwaan dan berusaha menjadi aulia. Waktu ini sarana duniawi tidak berguna, demikian juga perancangan dan perdebatan. Untuk apa cenderung kepada dunia dan apa yang kita boleh harapkan daripadanya. Perkara yang bermanfaat bagi kita ialah menjalinkan hubungan dengan Tuhan dan sekarang inilah waktunya. Seharusnya inilah yang mereka harus ambil manfaat iaitu menjalinkan hubungan baik dengan Tuhan. ...... Bangunlah pada waktu malam, banyakkan berdoa, berehatlah. Mereka yang malas dan lalai telah melakukan kezaliman atas keluarga dan anak-anak mereka kerana mereka itu ibarat akar dan anggota keluarganya adalah dahan-dahannya.” (Malfoozaat Jilid 2, halaman 581)

PENGGUNAAN PEDANG ADALAH SEBAGAI PERTAHANAN

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Pedang digunakan sekiranya Islam diserang dengan pedang. Sekarang ini adalah waktunya untuk menakluk hati dan hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan kekerasan. Kritikan yang menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w yang memulakan penggunaan pedang adalah salah sama sekali. 13 tahun Rasulullah s.a.w dan para sahabat hidup dalam kesabaran, kemudian walaupun sudah menundukkan para musuh, namun tetap menginginkan kedamaian yakni jangan sampai terjadi peperangan. Dan jika orang musyrik inginkan perdamaian dan keamanan, mereka harus diberikan kedamaian. Islam menginginkan agar tidak berlaku sebarang peperangan. Dasar peperangan telah dijelaskan oleh Tuhan sendiri kerana melihat orang Islam sangat dizalimi dan disusahkan dari setiap arah, sebab itu Allah Ta’ala mengizinkan perang semata-mata untuk menghadapi mereka. Jika tidak, sudah pasti ada perintah agar berperang dalam menyebarkan ajaran agama, tetapi, apa yang kelihatan ialah perintah LAA IKRAAHA FID DIINI (Al-Baqarah:257) yakni tidak ada paksaan dalam agama, kemudian apabila kekerasan dan kezaliman sudah melampaui batasan, maka barulah muncul perintah untuk menghadapi mereka.” (Malfoozaat Jilid 2, halaman 588)

HAKIKAT KETAKWAAN

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Untuk menjadi muttaki, selepas benar-benar meinggalkan perkara-perkara berat iaitu akhlak razilah seperti zina, mencuri, merampas hak, riak, sombong, memandang hina dan kedekut, maka perlu baginya menuju ke arah akhlak fadilah. Mempersembahkan sifat periang, perikemanusiaan dan kasih sayang kepada orang lain. Memperlihatkan kesetiaan dan kejujuran sebenar kepada Allah. Mencari kedudukan khidmat yang tertinggi. Dengan perkara-perkara ini, seseorang insan itu layak digelar muttaki, dan sekiranya seseorang itu mempunyai segala sifat-sifat yang dinyatakan, maka itulah ketakwaan yang sebenar. Dan untuk mereka ialah LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WALAA HUM YAHZANUUN (Al-Baqarah:62). Apalagi yang mereka mahukan selain itu? Allah Ta’ala akan menjadi mutawalli kepada mereka sebagaimana firman-Nya WAHUA YATAWALLAS SHOOLIHIIN (Al-A’raaf:197). Di dalam hadis ada dinyatakan bahawa Tuhan akan menjadi tangannya dengan itu dia memegang, menjadi matanya dengan itu dia melihat, menjadi telinganya dengan itu dia mendengar, dan menjadi kakinya dengan itu dia berjalan. Dan di dalam hadis yang lain Allah Ta’ala berfirman, orang yang memusuhi wali-Ku, Aku mengatakan kepadanya bersedialah untuk berperang dengan-Ku.” (Malfoozaat Jilid 2, halaman 680)


Makkah Al-Mukarramah

  Wahai anak-anak! Kita semua tahu bahawa alam ini diciptakan oleh Allah semata-mata untuk kekasih-Nya Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wa...