Thursday, February 3, 2011

AKIDAH JEMAAT AHMADIYAH


AQIDAH AHMADIYAH

Dengan karunia Allah subhanahu wa ta‘ala, kami Ahmadiyah adalah orang-orang yang beragama Islam, kami mempunyai keyakinan bahwa agama Islam itulah satu agama yang sempurna yang tidak akan dimansukhkan lagi sampai hari Qiamat. Siapa saja yang tidak mengikuti Islam, maka kepercayaannya tidak benar dan agamanya yang lain itu tidak akan dikabulkan.

Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:
Dan, siapa saja yang memilih selain Islam sebagai agama, maka darinya tidak diterima dan di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran, 3:86)

Al-Quranul-Majid adalah firman Allah yang suci dan Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berpangkat Khataman-Nabiyyin. Tidak ada kitab (syari’at) baru lagi atau Nabi yang membawa agama baru sesudah beliau itu.

Rukun Islam kami ada lima perkara:

1. Mengucapkan dua Kalimah Syahadat, yaitu:
Saya menyaksikan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah; dan saya menyaksikan bahwa Muhammad itu pesuruh Allah.
2. Mendirikan Shalat lima waktu dalam sehari-semalam.
3. Berpuasa pada bulan Ramadhan
4. Membayar Zakat kalau sudah cukup nishab.
5. Naik haji ke Mekkah Al-Mukarramah kalau mampu.

Demikian juga Rukun Iman kami ada enam perkara:

1. Percaya kepada Allah Ta‘ala.
2. Percaya kepada para Malaikat-Nya.
3. Percaya kepada Kitab-kitab-Nya.
4. Percaya kepada Rasul-rasul-Nya.
5. Percaya kepada Hari Qiamat.
6. Percaya kepada Taqdir Allah Ta‘ala.


Inilah kepercayaan kami secara ringkas. Sekarang, saya hendak menjelaskan kepercayaan Ahmadiyah itu dengan mengambil keterangan dari beberapa tulisan Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam sendiri:

BERKENAAN DENGAN ALLAH


Beliau telah bersabda:
Kami beragama Islam, kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya Yang Maha Tunggal (Nurul-Haq, Juz I, hal. 6).

Sabdanya lagi:
Saya beraqidah dari lubuk hati yang dalam bahwa Allah itu adalah Yang menjadikan alam, Dia itu Esa, Maha Kuasa, Maha Mulia dan menguasai segala sesuatu yang nampak dan yang sembunyi (Mir’atu Kamalatil-Islam, hal. 384).

Sabdanya lagi:
Allah itu Tunggal, Kekal berdiri sendiri tidak beranak dan tidak bersyarikat (Anjami atam, hal. 267).

Beliau bersabda lagi:
Dengan kemuliaan Allah saya bersumpah bahwa saya mengutamakan keridhaan-Nya melebihi segala perkara dan pintu-Nya melebihi segala pintu lain; dan kesukaan-Nya melebihi kesukaan orang lain dan bahwa Dia beserta dengan saya setiap waktu dan saya pun mengikuti-Nya dalam segala hal; dan saya telah mengutamakan kegiatan agama dan dialah yang mencukupi saya; walaupun saya tidak mempunyai harta benda dunia apa apa; aku mendapatkan kenikmatan meski takada apaapa di tangan; cinta kepada Tuhan tertanam di hati saya dan saya mendapatkan pangkat ruhani yang tidak dapat dikenal oleh manusia mana saja di masa sekarang (Tuhfatu Baghdad, hal. 19).

Sabdanya lagi:
Kepada Allah saja saya menuju; pada tiap-tiap waktu pena saya bergerak.

BERKENAAN DENGAN MALAIKAT

Beliau telah bersabda:

Aku beraqidah bahwa Allah mempunyai malaikat, …masing-masing dari mereka itu mempunyai martabat yang tertentu (Miratu Kamalatil-Islam, hal. 284)

Sabdanya lagi:
Dan kami beriman kepada malaikat Allah dan dengan martabat mereka dan kami beriman bahwa turunnya mereka itu seperti turunnya nur, bukan seperti pindahnya manusia dari satu negeri ke negeri lain (Tuhfatu Baghdad, hal. 25).

BERKENAAN DENGAN KITAB

Beliau telah bersabda:

Aku bersumpah dengan kemuliaan Allah bahwa aku seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Kitab-kitab-Nya (Chmaamatul-Busyraa, hal. 13).

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Aku beriman kepada Allah , Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya (Izaalatul-Auhaam, hal. 2).

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Bersaksilah kamu bahwa kami kami berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Quran dan kami mengikuti sabda Rasulullah yang menjadi sumber kebenaran dan ilmu makrifat, dan kami menerima apa-apa yang telah diijma’kannya pada masa itu, kami tidak menambah apaapa dan tidak pula mengurangi apa-apa darinya dan kami hidup dan mati atasnya. Siapa saja yang menambah apa-apa dalam syari’at atau mengurangi atau mengafiri aqidah yang telah diijma’kan, maka ia akan mendapat kutukan Allah, kutukan malaikat dan manusia semuanya (Anjami Atam, hal. 144).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Sesungguhnya semua kebaikan ada di dalam Al-Quran dan dalam Hadis yang tertuju dengannya. Mereka yang mencari selain darinya, maka mereka termasuk orang-orang yang melanggar batas (Mawahibur-Rahman, hal. 62).


Beliau ‘alaihis salam bersabda:
Dan aku bersyukur kepada Allah karena aku tidak mendapatkan satu pun ilham dari ilham-ilhamku yang menyalahi Kitab Allah, bahkan aku mendapati segala ilham, sesuai dengan Kitab Tuhan sekalian alam, yaitu Al-Quranul-Majid (Chamaamatul-Busyraa, hal. 96).

BERKENAAN DENGAN PARA RASUL

Beliau ‘alaihis salam telah bersabda:
Segala puji bagi Allah yang telah berbuat baik kepada kami dengan mengutus para Rasul dan Kitab-kitab dan telah menjadikan Nabi-nabi itu sebagai tali untuk kemah-kemah tauhid dan menghubungkan dibelakang mereka wali-wali supaya menjadi paku bagi tali-tali dan shalawat dan salam kepada sebaik-baik dan semulia-mulia Rasul, yaitu Khaatamun-Nabiyyiin dan yang akan memberi syafa’at untuk orang-orang yang berdosa dan beliau itu lebih utama dari semua orang dahulu dan kemudian dan pula shalawat dan salam bagi para pengikutnya yang suci dan yang disucikan (Anjaami Atahm, hal. 73).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Aku beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya (Izaalatul-Auhaam, hal. 2)

Sabda beliau ‘alaihis salam lagi:
Ketahuilah wahai saudaraku, kami beriman kepada Allah, sebagai Tuhan dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatamun-Nabiyyiin, kami beriman kepada Al-Quran bahwa itu dari Allah Yang Pengasih dan kami tidak menerima apa saja yang menyalahi Al-Furqan (Al-Quran) dan keterangan-keterangan, dan hukum-hukumnya, kisah-kisahnya meskipun perkara itu timbul dari akal manusia atau dari riwayat-riwayat yang dinamakan Hadis oleh para Ahli Hadis atau dari kata-kata sahabat dan tabi’in (Tuhfatu Baghdad, hal. 23).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Demi Allah, Muhammad adalah semulia-mulia makhluk dan beliau itu Nur Allah yang menghilangkan segala kegelapan.

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Mu’jizat para Nabi itu benar (Mir’aatu Kamaalaatil-Islaam, hal. 367).

BERKENAAN DENGAN HARI AKHIR

Beliau ‘alaihis salam telah bersabda:
Kami beriman bahwa kebangkitan sesudah mati itu benar, Surga dan Neraka itu benar dan segala apa yang ada di dalam Al-Quran itu benar dan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah semulia-mulia Nabi dan penghulu semua Rasul (Muhammad) itu benar, dan siapa saja yang menuduh kami dengan perkara yang menyalahi syari’at dan Al-Quran walaupun sedikit, maka sungguh dia telah mengadakan kedustaan yang nyata kepada kami (Tuhfah Baghdad, hal. 25)

Lagi beliau ‘alaihis salam bersabda:
Dan kami beriman kepada malaikat, hari Kebangkitan, Surga dan Neraka (Nurul-Haqq, Juz I, hal. 6)

Lagi beliau ‘alaihis salam bersabda:
Kami beri’tiqat bahwa Surga dan Neraka itu benar (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 387).

BERKENAAN DENGAN TAQDIR

Beliau ‘alaihis salam bersabda:
Kepunyaan Allah saja segala kemuliaan dan kebesaran, dan dari-Nya qadar dan qadha’ dan perintah-Nya didengar oleh bumi dan langit (Mawaahibur-Rahmaan, hal. 116).

Inilah kepercayaan Ahmadiyah yang telah dijelaskan dalam bukubuku Hadhrat Ahmad ‘alaihis salam sendiri.

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Ketahuilah bahwa Islam itu agamaku tauhid itu keyakinanku (Miraati Kamaalaatil-Islam, hal. 388).

Beliau ‘alaihis salam bersabda lagi:
Kami berlepas diri dari setiap hakikat yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam (Tuhfatu Baghdad, hal. 25).

Adapun perselisihan yang terdapat di antara kami dengan orang-orang Islam lain itu sebagai berikut:
1.      Kami beri’tiqad bahwa Allah itu satu Dzat-Nya, sifat-Nya dan af’al-Nya dan Dia tidak bertempat, bahkan Dia telah ada sebelum alam ini dijadikan. Akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah itu beri’tiqad bahwa Allah itu bertempat dilangit.
2.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa malaikat Allah itu suci tidak berdosa, sedangkan orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada malaikat-malaikat yang sudah berbuat dosa.
3.      Orang-orang Ahmadiyah beriman bahwa Nabi-nabi itu suci dan ma’shum, sedang orang-orang yang bukan Ahmadiyah mengakui bahwa ada pula di antara Nabi itu yang melanggar perintah Tuhan dan ada di antara mereka yang telah berdusta dan lain-lain.
4.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Allah telah mengutus para Nabi dan para Rasul kepada setiap umat dan wajib kami percayai serta menghormati mereka itu, sedangkan mereka yang bukan Ahmadiyah tidak mempercayai sedemikian.
5.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Allah tetap bersifat mutakallim (berbicara), maka sebagaimana Dia telah berkata-kata dengan hamba-hamba-Nya di masa dahulu demikian juga Dia berkata-kata dengan hamba-hamba-Nya yang baik sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun wahyu yang mengandung hukum-hukum baru yang menyalahi syari’at Islam memang tidak akan turun lagi, sedangkan mereka yang bukan Ahmadiyah mengatakan bahwa tidak ada sembarang wahyu lagi, karena Allah tidak akan berkata-kata lagi sampai Qiamat.
6.      Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa Nabi-nabi yang membawa syari’at baru atau Nabi yang tidak mengikuti Islam itu tidak ada lagi. Adapun Nabi yang taat kepada Islam bahkan mendapatkan pangkat kenabian pun karena dengan berkat mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memang boleh ada sesudah beliau hanya untuk memajukan Islam saja. Akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa sembarang Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka yang mengaku menjadi Nabi itu Dajjal adanya.
7.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Nabi Allah Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam yang telah diutus kepada Bani Israil itu sudah wafat sebagaimana Nabi-nabi lainnya, akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam itu masih hidup di langit dengan tubuh kasarnya sampai sekarang.
8.      Orang-orang Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Nabi Isa yang dijanjikan itu adalah seorang dari ummat Islam sendiri bukan Nabi Isa yang telah diutus kepada Bani Israil dahulu, akan tetapi orang-orang yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa Nabi Isa yang telah diutus kepada Bani Israil itu juga yang akan diutus kepada ummat Islam. Dan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa apabila Isa datang, ia tidak berpangkat Nabi lagi.
9.      Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa adzab Neraka itu tidak kekal selama-lamanya, ada masanya adzab itu akan habis walaupun panjang lamanya, hanya nikmat Surga saja yang kekal selamalamanya. Akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada manusia kafir yang akan dimasukkan ke Neraka untuk kekal selama-lamanya dan adzabnya tidak putus sampai kapan pun.
10.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa Isra’ dan Mi’raj itu benarbenar tejadi akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak naik ke langit dengan tubuh kasarnya, bahkan kejadian itu adalah satu kasyaf yang mulya. Adapaun orang yang bukan Ahmadiyah meyakini bahwa beliau sudah naik dengan tubuh kasarnya sampai di langit yang ketujuh bahkan sampai Sidratul-Muntaha dan Baitul-Ma’mur yang lebih tinggi dari langit yang ketujuh itu.
11.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa semua ayat Al-Quran itu mengandung kebenaran-kebenaran yang kekal, tidak ada di dalamnya satu ayatpun yang bathil, akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa ada banyak ayat-ayat Al-Quran yang tidak boleh dipakai lagi karena sudah dimansukh.
12.  Orang-orang Ahmadiyah percaya bahwa tiada paksaan dalam agama, Islam hendak mengemukakan segala kebenaran dengan keterangan yang melapangkan fikiran dan menerangi akal dan menimbulkan keyakinan di hati, akan tetapi mereka yang bukan Ahmadiyah percaya bahwa sembarang orang kafir boleh dibunuh karena kekafirannya apalagi ketika Nabi Isa ‘alaihis salam akan turun, dia akan membunuh segala babi dan menurut kata Ulama dia akan membunuh pula semua orang-orang kafir yang tidak mau memasuki agama Islam (lihat Tafsir Al-Khazin Juz I, hal. 516 dan menurut fatwa Imam As-Syafi’I sembarang orang kafir boleh dibunuh karena kekafirannya saja lihat Bidayatul-Mujtahid Juz I, fasal Jihad).

Kepercayaan dan pengakuan Ahmadiyah ini berdasarkan kepada alasan-alasan Al-Quranul-Majid dan Hadis-hadis Nabi serta kami senantiasa bersedia untuk mengemukakan segala alasan itu insya Allah.

Pembaca yang dihormati! Keterangan-keterangan tadi sudah pernah dikirim kepada Syeikhul-Islam Mahmud Zuhdi di Kalang menurut Titah dari Kebawah Dule yang maha mulia Sulthan Selangor pada permulaan Agustus 1951. Akan tetapi tidak dapat dibantah oleh Pejabat Agama sampai sekarang. Terjemah keterangaan-keterangan bahasa Arab itu ditambah sekarang.


No comments:

Post a Comment